Sunday, June 01, 2008

Indonesia! Stop act like a Looser..

Saya baru saja mengikuti kelas training dari suatu perusahaan, mendapatkan banyak pengalaman di bidang bursa. Pada saat break time, kita sesama peserta training saling berbincang-bincang, dan tiba-tiba saja saya tersadar bahwa betapa bangsa kita gemar sekali mengolok-olok dan mencerca bangsa sendiri.

Sementara saya sedang ngobrol dengan salah satu peserta lainnya mengenai bursa yang sedang kita pahami, tiba-tiba saja peserta lain, sebut saja si A, mengomentari penyanyi yang gagal dan kemudian secara jenaka memeragakan latihan tenaga dalam yang kurang sukses, lucu memang tapi ironis.. inilah Indonesia yang memandang tontonan ini dari sudut pandang yang "ringan dan lucu". Olok-olok ini sesungguhnya dapat membuat kita terjebak pada self fulfilling prophecy yaitu dengan kata lain terdorongnya perilaku baru melalui perkataan, pikiran atau keyakinan kita sendiri. Saya pernah dengar salah satu ungkapan "otak Indonesia paling segar, karena tidak pernah dipakai" atau "Indonesian people = born to lose", karena tidak diikuti dengan action plan pribadi yang jelas, malah bisa merusak diri sendiri / frustasi. Dikarenakan kemalasan dan tidak teganya kita memaki diri sendiri, maka olok-oloklah yang kita lontarkan pada pihak lain.

Saya disini bukan tidak setuju dengan humoritas yang ada dalam bangsa ini. Tertawa dan bercanda bersama adalah cara untuk mempererat hubungan antar sesama. Orang-orang yang banyak tertawa memang cenderung lebih happy dan optimis. Tapi, tertawa, baik mengenai diri sendiri atau terhadap suatu situasi tentunya tidak berlaku bila diwarnai dengan sinisme yang berlebihan ataupun pelecehan terhadap orang lain, apalagi ke diri sendiri.

Olok-olok yang sering kita dengar belakangan ini, rasanya sulit digolongkan pada olok-olok yang sehat, karena terasa lebih getir, sinis bahkan esteem / penghargaan diri. Orang-orang yang ber-esteem rendah ini kita kenal sebagai orang yang malas, tidak menyukai tantangan dan selalu tampil dalam mengkritik tajam bahkan melecehkan orang lain. Tentunya kegiatan ini bukan lagi yang disebut sense of humor.

Kita dapat berpikir, mungkinkah olok-olok merupakan umpan balik bagi pihak lain untuk mengintrospeksi dirinya kembali tapi jangan disalahartikan juga sebagai masukan karena biasanya sindiran tidak tertuju langsung pada orang yang kita maksud. Olok-olok ini juga tidak pernah menyebabkan situasi menjadi lebih baik, bahkan kita yang senang mengolok-olok juga bisa disebut sebagai manusia kerdil yang seolah-olah "lempar batu sembunyi tangan" akibat ketidakmampuan kita mempertanggungjawabkan pendapat dan masukan kita secara elegan dan ksatria.

Jika dalam buku Rhonda Byrne, best sellernya "The Secret", ada beberapa kalimat yang dalam arti sangat mustahil jika kita menginginkan kebaikan, kesejahteraan, dan keuntungan tanpa mensyukuri apa yang kita miliki. Rasa syukur itulah yang nantinya akan menjadi magnet menarik segala hal-hal positif dalam kehidupan kita. Kita boleh merasa "kurang" atau "belum puas" karena itu akan menantang diri kita. Membangkitkan motivasi lebih baik lagi dan sempurna. Namun bila tidak diiringi dengan rasa syukur maka energi negatif inilah yang akan membendung kita dari kreativitas dan patriotisme untuk membangun diri.

Beberapa minggu lalu CNN melaporkan gempa di Sichuan (Cina) yang menewaskan dan melukai jutaan orang disana, tapi dapat kita contoh dari segi sosialitasnya, patriotismenya. Disana tidak terdengar ratapan dan keluhan tapi yang tampak adalah banyaknya orang yang berlomba-lomba memberikan bantuan. Di negara yang sering kita duga "miskin emosi" ini ternyata banyak orang yang mengidap gejala bystander's apathy yaitu penonton yang apatis dan tentunya tidak ada salahnya jika kita mem-benchmark semangat solidaritasnya dan "tidak ada matinya" negeri Cina ini.

Maka mulalilah bangkit dengan membuat daftar sukses. Mulai dari hal-hal yang kecil sampai yang besar, apakah itu keberhasilan melompat pagar rumah sendiri 3 meter tingginya, menyelesaikan laporan tepat waktunya, menutup penjualan 10 juta, berhemat 100 ribu atau hanya sekedar membuang sampah pada tempatnya. Dengan bersyukur apa yang telah kita miliki, kita telah memupuk kualitas positif dan kompetensi, selanjutnya mari kita hidup sesuai dengan tuntutan yang realistik dan jangan lupa untuk bertindak ! Semangat =)

No comments:

Powered By Blogger