Wednesday, July 02, 2008

Dare to be Troubled ?!

Berani Susah ? ya, pertanyaan yang sering kali dihindari oleh kita dan sebisa mungkin bila ada yang bertanya seperti itu kepada kita, kita mungkin akan menjawabnya dengan tegas yaitu sebisa mungkin kita tidak akan pernah mau masuk dalam situasi seperti itu, iya lah mana ada yang mau jadi susah, yah ?! tapi tidak oleh salah satu karyawan di bengkel saya, dia benar-benar sulit mengkontrol pengeluarannya. Ia tidak bisa lepas untuk melakukan gali lubang tutup lubang dalam mengatasi hutangnya. Hutangnya itu mula-mula dipinjam dari sebuah jasa kredit tanpa angunan bank dan berkembang menjadi hutang yang lain, terutama untuk menutupi hutang yang lama. Ketika saya sangat kecewa melihat hal itu bisa dilakukan oleh orang yang selama ini dapat saya andalkan, karyawan yang lain pernah bercerita kepada saya bahwa ibu mertuanya juga terbelit hutang dengan cara yang sama. Terkesan bahwa di antara kita sudah banyak kebiasaan mencari solusi yang “ambil gampangnya”, “instan”, dan tidak mau sedikit bersusah.

Saya kagum juga dimana sekarang ini kita dapat dengan mudah mendapatkan hutang. Di zaman ketika bokap saya membutuhkan modal atau uang lebih, rasanya tidak mungkin kita bisa dengan mudah mendapatkan pinjaman dari bank atau orang lain, bahkan dengan janji bunga yang relatif rendah. Rupanya perkembangan bisnis jasa sudah demikian pesatnya sehingga masyarakat “dimudahkan” dan “dimanjakan” oleh solusi-solusi sementara, “fast and easy”, instan, yang tidak prinsipil lagi.

Ketidaktegasan dalam berdisiplin dan ketidakjelasan aturan, menyebabkan orang maju mundur menentukan apa yang perlu diperjuangkan, orang jadi enggan meramal, membuat rancangan, berusaha mati-matian dan menentukan hidupnya alias pasrah, menghidupkan mental yang lemah, mengharapkan hadiah, berhutang, tidak berdaya, bahkan mengemis dan menumbuhkan mental “tidak berani susah”.

Penyebaran informasi yang tidak memadai mengenai semangat berprofesi, keadaan finansial perusahaan ataupun negara, menyebabkan ketidakjelasan menjadi alasan bagi individu untuk bersikap pasrah dan lemah. Sebaliknya, kita masih bisa melihat sekelompok orang yang produktif, “low profile”, tetap sabar, optimis dan gigih, dalam lingkungan dengan sikap disiplin kuat. Bisa kita bayangkan betapa beruntungnya orang-orang ini, karena sistem atau organisasi sudah menyuguhkan lingkungan yang kondusif. Bagi kita, yang kebanyakan berada dalam kondisi lingkungan yang tidak kondusif, justru inilah mendorong kita untuk menjadi motor penggerak dan perlu “in charge” untuk memperkuat diri sendiri.

Saya kira kita pasti masih ingat bagaimana kita menyaksikan tim piala Uber kita dikalahkan oleh tim China. Saya yakin bahwa setiap penonton berbangsa Indonesia, merasa babak belur, dan merasakan sakitnya kekalahan tim kita, yang rankingnya memang jauh dibawah para pemain China. Pada saat itu terasa oleh kita bahwa tim kita mempunyai semangat “Rise and Shine” bermental “A”. Pada saat itu kita merasa siap untuk bermain, tidak takut, ingin sukses. Bahkan setelah kalah pun, “rasa” itu masih ada. Tidak ada yang memaki atau mencerca tim Uber kita, semua merasakan semangat “fight” –nya. Rasanya semangat ini yang harus kita hidupkan kembali, melihat kesulitan dan persaingan yang ada di dunia bisnis maupun di arena global. Semua “hardware” dan perangkat teknis sudah sama, yang bisa bersaing hanyalah manusianya. Bila manusianya berpotensi dan berkompetensi sama, yang bisa disaingkan adalah mentalnya dan “Willpower” –nya.

Sikap “tidak ada matinya” tidak bisa kita biarkan mati suri, karena pada akhirnya hal inilah yang menjadi daya saing bangsa. Kekuatan kemauan atau Willpower ini adalah kemampuan individu untuk menyulut mental dan mengatakan pada diri sendiri untuk bertahan, kemudian mengeluarkan daya sekuat tenaga bagai mesin yang baru bekerja selalu mengambil daya listrik yang lebih besar. Willpower adalah pengumpulan energi yang kuat dan besar, yang perlu dikeluarkan sekaligus pada saat kita dalam posisi kritis. Pada saat itu kita menyerang balik titik lemah kita, sehingga kita bisa mematahkan segala ketakutan, keraguan, kecengengan, kelelahan kita untuk sampai pada titik dimana kita seolah-olah nempunyai energi untuk bergerak dan mendapatkan tenaga untuk maju dan ingin memenangkan situasi.

Kita butuh memelihara willpower ini, begitu banyak tantangan berat kita hadapi yang membutuhkan mental yang superkuat. Kita dihadapkan pada tantangan untuk mengecangkan ikan pinggang karena kenaikan harga, melangsingkan badan karena kesehatan, bersaing secara profesi di kancah international, super hati-hati dalam kontrol kualitas, mencermati keadaan keuangan yang ketat, meningkatkan kinerja tanpa kenaikan imbalan yang kita harapkan, menghentikan kebiasaan korupsi berbentuk uang maupun waktu, menghentikan memberikan suap demi sikap mental “yang penting cepet beres daaa “.

Kebanyakan orang mendambakan situasi rileks, aman, positif, dan optimis. Namun, kita sering lupa bahwa cara untuk mendapatkan situasi itu diperlukan suatu “resep”. Dan bila kita ingin mencapai situasi “nyaman”, tentunya kita tidak bisa berharap orang akan memberikannya secara Cuma-Cuma.

Untuk mencapai kualitas kehidupan yang lebih baik, kita tampaknya tidak bisa berfokus pada hal-hal materi semata karena materi sekarang justru tidak bisa ditandingkan. Seperti prinsip atlet, khususnya pelari rintangan, “Run to be good, practice to be better, and train to be the best”. Kita perlu mendera diri sendiri untuk menghentikan segala kebiasaan buruk dan mengembangkan perilaku yang lebih positif. Tentunya latihan ini akan butuh “pengorbanan”, seperti begadang demi terselesaikannya pekerjaan yang sudah dijanjikan, bekerja sambil belajar demi karir yang lebih baik, melakukan hal yang sama ribuan kali sampai dianggap kompeten, menerima penugasan yang lebih banyak supaya atasan “percaya”, makan lebih tidak enak demi kesehatan dan penghematan, bahkan hilangnya teman karena mempertahankan prinsip. Namun bersamaan dengan itulah kita berhasil menguatkan willpower kita dan bisa mengembangkan mental tahan banting. Efek samping yang didapat dari latihan begini adalah hilangnya rasa bersalah, tumbuhnya keberanian menghadapi kenyataan, penghargaan pada diri sendiri, dan meningkatnya kepuasaan dan happiness dalam kehidupan kita. So.. you know what you have to do now, just do now and let God do the rest, a fren told me that… anyway, Best of luck ^^

No comments:

Powered By Blogger