Wednesday, September 24, 2008

The Legend of Two Sun

This writing is dedicated to Ronny Pattinasarany (one of the legend of indonesian footballer). One of my followers when i play football, salute to him. 'cause of that,I'll try writing this story with my indonesian. =)

Tepat matahari berada di atas kepala waktu itu, beberapa wartawan indonesia, menyaksikan aksi mahabintang Diego Maradona di final Piala Dunia 1986 Argentina melawan Jerman Barat di stadion Azteca, Mexico City. Kita beruntung ada tiga pemain besar di negeri ini, yaitu Sinyo Aliandoe, Iswadi Idris, dan Ronny Pattinasarany.

Sinyo, Iswadi, dan Ronny kemudian beralih profesi menjadi kolumnis. Dari penuturan mereka, mereka paham makna di balik tiap adegan yg diperagakan Maradona. Mereka juga lebih mengerti arah, alur, sistem, taktik, strategi, dan dinamika pertandingan.

Ketiganya gelandang timnas berkelas playmaker pengatur serangan dengan intelektualitas tinggi. Dua diantaranya telah mendahului kita, Iswadi (18 Maret 1948 - 11 Juli 2008) dan Ronny (9 Februari 1949 - 19 September 2008). Salut untuk mereka, yang telah menjadi kapten timnas selama bertahun-tahun.

Dari Piala Dunia 1986 itu, yak! Iswadi dan Ronny sesungguhnya bersaing ketika menjadi pemain nasional. Di timnas manapun, hal ini wajar terjadi, misalnya antara Piet Kiezer dan Johan Cruyff di Belanda atau Franz Beckenbauer dan Gunther Netzer di Jerman Barat. Biasanya persaingan macam ini bersumber pada satu hal, tak boleh ada dua matahari di bumi ini.

Bintang Iswadi bersinar setelah kembali dari klub Melbourne Western Suburb (Australia) awal 1970-an, Ronny setelah membawa PSM Makassar menjuarai Soeharto Cup 1974. Pelatih timnas asal Belanda, Wiel Coerver, mungkin bingung memadukan kombinasi Iswadi-Ronny saat mempersiapkan timnas ke Pra-Olympiade 1976 di Jakarta.

Dua-duanya berkualitas kapten dan efektif bermain di lini tengah, meski Iswadi juga hebat sebagai kanan luar. Dua-duanya "pemain berwatak" bertipe pemberontak alias susah diatur dan memiliki kepemimpinan. Apalagi mereka didukung pemain-pemain top seperti Junaedi Abdillah, Sutan Harhara, Ronny Pasia, dan Anjas Asmara. Coerver lebih memilih Iswadi dan mengorbankan Ronny yg kala itu lebih senang dikenal "mantan pemain nasional" saja.

Ronny mengirim sepucuk surat ke PSSI yg isinya menyarankan agar siapa saja yg pantas, dipilih masuk ke tim 1976, kecuali dirinya. Sebagian gagasan line-up versi Ronny itu diterima dengan baik oleh Coerver karena masuk akal.

Sejarah mencatat tim yang dikapteni Iswadi itu nyaris lolos ke Oliampiade 1976 Toronto (Kanada) andai menang adu penalti melawan Korea Utara. Tak lama kemudian Ronny kembali ke timnas bergabung dengan Iswadi di timnas SEA Games 1979 pada final di Stadion Utama Senayan ditaklukan Malaysia 0-1, Iswadi tetap jadi Kapten, Ronny wakilnya.

Pada tahun-tahun itu, Iswadi Kapten klub Jayakarta di kompetisi Galatama, Ronny Kapten Warna Agung. Di kompetisi perdana 1979-1980 Warna Agung jadi juara setelah di partai terakhir menaklukkan Jayakarta 1-0. Lewat kepemimpinan dan corak permainan di kedua klub inilah watak kedua pemain besar itu tampak jelas.

Ronny dan Warna Agung melopori "Sepak Bola Sirkus" yang bergaya Brazil. Ia diantaranya dibantu oleh Risdianto, Rully, Nere, Tinus Helpon, Timo Kapisa, Stefanus Sirey, dan Budi Riva. Warna Agung klub yang cenderung pamer dan nikmat ditonton karena individual skill yang amat menonjol.

Sebaliknya, Jayakarta lebih mirip Jerman Barat karena Iswadi "bertangan Besi". Ia kurang bisa mentolerasi kesalahan apa pun. Jika Warna Agung memperagakan sepak bola menyerang, Jayakarta cenderung defensif. Iswadi bagai magnet yang jadi pusat inspirasi bagi pemain-pemain Jayakarta lainnya, seperti Anjas, Sofyan Hadi, Andi Lala, dan Aun Harhara.

Sosok atau kepribadian Ronny dan Iswadi mendominasi dua klub elite yang mereka kapteni itu. Prestasi Warna Agung dan Jayakarta di ajang Galatama relatif stabil dan menjadi pusat produksi sejumlah pemain nasional yang andal. Dan, secara perlahan-lahan kematangan teknis serta kepemimpinan Iswadi dan Ronny menyeret mereka untuk memainkan peranan baru yaitu sebagai libero timnas.

Ketika itu peranan Beckenbauer sebagai libero jadi model yang diminati banyak tim di dunia. Namun untuk ukuran Indonesia, peranan itu sesungguhnya dimainkan Ronny dan Iswadi untuk menutupi kelemahan timnas PSSI yang paceklik penyerang dan prestasi. Iswadi tampil sebagai libero dengan andalan penyerang macam Hadi Ismanto, sedangkan Ronny jadi dirigen untuk penyerang generasi baru dibawah Hadi Ismanto, seperti Bambang Nurdiansyah dan Bambang Sunarto.

Telah terbukti dua pemain istimewa ini merupakan peletak dasar sepak bola kita. Pada saat prestasi seret mereka masih memainkan peranan penting sebagai kapten ataupun libero dalam usia diatas 30 tahun. Di lapangan hijau yang bekerja praktis bukan fisik mereka yang sudah tidak prima lagi, tetapi otak dan leadeship mereka.

Yak, otak dan leadership itulah yang sudah tidak ada lagi di jajaran timnas ataupun PSSI. Tak ada pemimpin lagi di organisasi ataupun di lapangan hijau, yang ada hanya pemain dan pengurus berkelas follower. Ironisnya, nyaris tak ada apresiasi dari pemerintah terhadap pengabdian yg disumbangkan untuk bangsa ini oleh Ronny dan Iswadi.

Prestasi dan kondisi timnas ataupun pengurus PSSI makin tak karuan. Ketua umumnya dipenjara, timnas jadi juara hanya gara-gara Libya kalah WO karena pelatihnya dipukuli. Saya hanya menyesali Om Ronny dan Iswadi masih belum bisa menikmati prestasi timnas dan pengurus PSSI yang patut dibanggakan sampai mereka dipanggil ke sisi-Nya .

No comments:

Powered By Blogger